Uncategorized

Ia adalah Malaikat Syurga Allah

43 tahun sudah engkau bertarung dengan dunia dan lebih separuh usiamu sudah engkau habiskan untuk mendampingiku.
ia adalah seorang wanita yang lebih memilih mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menngambil peran utama dalam sebuah konteks rumah tangga yaitu seorang ibu dan juga istri. mengistirahatkan semua mimpi-mimpi yang dlu ia idamkan demi merawat sang buah hati dan juga suami.

IMG20180617174443

 

Wahai malaikatku !
engkau adalah seorang perawat sekaligus dokter sejak kecilku, tak pernah kenal kata lelah untuk selalu menjaga kesehatan keluarga.
bolak-balik mengantarkanku ke dokter anak karna aku anak yg paling sering sakit ketika kecilku.

Wahai malaikatku !
engkau adalah seorang juru masak, tak pernah kenal kata lelah untuk terus selalu mengajarkanku tentang segala macam resep masakan, mengenalkanku tentang bumbu-bumbu dapur dan juga tentang segala macam bahan” kue yang enak.

Wahai malaikatku !
engkau juga seorang guru favoritku, yang pertama kali mengajarkanku mengenal huruf-huruf ijaiyah. mengajariku cara berpidato pada saat SMA lalu serta memberikan ku semangat saat aku berada di area pertandingan pada masa itu. hingga kini aku beranjak dewasa, engkau juga seorang sahabat yang tak pernah berkata “bosan” saat aku menceritakan tentang kisah cintaku,

Seiring bertambahnya angka usia pada diri maka berkurang pula jatah kita hidup pada bumi Allah ini. Tangan yang selalu menengadah meninggi selalu engkau rapalkan dalam setiap bait-bait doa padaNya. Mengeyampingkan ego demi memenuhi kebutuhan sang buah hati dan juga suami. Badan yg tak elok lagi seperti gadis-gadis pada umumnya. Semua telah berganti alih ketika ia lebih memilih untuk menjadi peran baru tersebut.

Engkau tak meminta anakmu untuk membayar semua jasa yg telah engkau berikan, tetapi engkau hanya ingin anakmu agar menjadi wanita cerdas nan Soleha. menjadi wanita yg lihai dalam mengurus generasi penerus agama Allah nantinya.
Kini, 21 tahun telah aku berikan pengabdian ku padamu, semoga akan kekal abadi. pernah engkau berpesan wahai Ibu! bahwa apabila ilmu seseorang bertambah maka bertambah pula rendah hati nya, yang apabila ilmu seseorang itu bertambah maka semakin bertambah pula kebermanfaatan pada dirinya dan apabila ilmu seseorang itu bertambah maka bertambah pula keimanannya kepada RabbNya.
.
tak banyak yang bisa ku jelaskan tentangmu, karna aku yakin setiap tetes keringatmu bekerja sebagai ibu rumah tangga, ketulusan hati
dalam melayani keluarga semoga syurga akan menjadi balasan nya. Karna engkau tahu wahai Ibu! Tak ada predikat yang paling mulia disisi-Nya dan tak ada profesi yang lebih tinggi derajatnya selain memilih peran menjadi ibu dan juga istri. hingga suatu saat nanti aku menikah, doakan aku agar selalu mencontoh tauladan baikmu yang tak pernah berhenti belajar untuk menjadi lebih baik.

Puluhan kata dalam sebuah rangkaian kalimat menjadi satu membungkus sebuah nasihat” indah nan menyentuh qolbu. Nasihat ibu yg ia berikan melalui hati yg sangat tulus mampu memberikan banyak pembelajaran bagi diri agar terus selalu kuat dan tegar dalam menghadapi perjalanan hidup sementara di bumi Allah ini.

Your life is nothing more than a love story. Between you and God. Nothing more. Every person, every experience, every gift, every loss, every pain is sent to your path for one reason and one reason only: to bring you back to Him.” Yasmin Mogahed

Trimakasih atas segala kasih syg dan juga cinta

Bandung, 16 Agustus 2018.

Advertisements
Standard
Uncategorized

Wanita dan Peran nya

Sudah lama rasanya tidak menulis lagi, dan menceritakan semua unek unek yg ada di fikiran. Maafkeun yaa 😂 Alhamdulillah, semoga aktivitas demi aktivitas akan selalu dilancarkan dan dimudahkan, amiinnnn.

Sembari mengisi kekosongan, maka kali ini disempatkan untuk mulai menulis lagi. semoga tema kali ini akan ada manfaat yg diambil setelah membacanya.

• WANITA dan PERAN nya •

Jika baik wanita, maka baik pula negaranya, namun jika rusak wanita maka rusak pula lah negaranya. Kalimat tersebut cukup sederhana, tetapi, sungguh menyadarkan saya untuk terus selalu berbenah dan berbenah yg insyaAllah akan menjadi diri yg lebih baik dari diri sebelumnya. Wanita adalah pembentuk suatu peradaban, pencetak suatu generasi yg cerdas, maka dari itu Wanita yg baik adalah wanita yg senantiasa menjaga akhlak dan kehormatan dirinya.

Ditengah perbincangan malam yg hangat, ibu saya pernah mengatakan sesuatu, bahwa menjadi seorang wanita itu sangat banyak peran serta tanggung jawab yg diamanahkan pada dirinya. Dan beliau juga memberikan beberapa nasihat yaitu :

“Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.”
Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Dari hadist tersebut, sadarilah bahwa inilah peran kita wahai wanita ketika kita menjadi seorang ibu nantinya. Dari rahim wanita lah lahir generasi-generasi yang perlu dididik dengan ilmu agama, tidak melulu mementingkan urusan materi. Namun, yg paling utama adalah harus dididik dengan moral dan akhlak yg baik.

Menjadi wanita tentu tidak mudah, akan sangat banyak sekali ilmu yang harus ia pelajari, karna segala bidang ilmu itulah yg akan menjadikannya bekal menuju kehidupan selanjutnya. Bagi wanita yang belum menikah ( nunjuk ke diri sendiri 😉 ) bukan berarti kita harus menutup mata dan telinga kita untuk tidak mengetahui hal hal demikian, akan tetapi perlahan demi perlahan kita juga harus mengetahui, merencanakan, dan mempersiapkannya dengan kematangan. Jika kita menyiapkannya dengan pemikiran yg matang. Maka berarti kita telah siap untuk mengambil dan menjalankan peran tersebut. Serta ilmu apapun yg kita pelajari akan ada manfaat dan sisi positif nya dari apa yg kita dapatkan saat ini.

Ada suatu hadist mengatakan :
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim:2699).

Jadi, untuk para wanita, kita dilahirkan dengan begitu istimewa tentu nya juga diri kita sangat banyak sekali perbedaan yg ada pada diri laki laki, peran serta tanggung jawab kita akan menjadi ibu juga tidak mudah, yuk mari sama sama kita belajar memperbaiki diri dan mendidik diri agar generasi yg kita lahirkan nantinya akan terdidik dengan akhlak dan moral yg baik.

Semoga tulisan saya kali ini akan membawa manfaat bagi temen” semua. Ambillah sisi positif nya dan buanglah sisi negatif nya

Sekian

Bandung, 6 Desember 2017

00.38 WIB.

Standard
Uncategorized

Fatimah Az-Zahra & Ali Bin Abi Thalib “The Greatest Love Story Ever”

131106_19Bismillah .. Siapa yang tidak kenal dengan Fatimah,sang Putri Rasul? Walaupun gak pernah dijabarkan seperti apa rupanya,tapi jaminan mutu pasti cantik banget. Fatimah itu Puteri Rasululullh SAW yang notabene masih keturunan bangsawan. Yah kita lihatlah ya keturunan bangsawan keraton aja bening-bening.. Gimana keturunan bangsawan Arab? Untuk selingan aja dulu ya. Rasulullah itu tampan banget.

Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fatimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.Ia mengambil kesempatan.Itulah keberanian.Atau mempersilakan.Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.”Ya. Engkau wahai saudaraku!””Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?””Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?””Entahlah..”

”Apa maksudmu?””Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Ternyata memang dari dulu Fatimah sudah mempunyai perasaan dengan Ali dan menunggu Ali untuk melamarnya. Begitu juga dengan Ali, dari dulu dia juga sudah mempunyai perasaan dengan Fatimah. Tapi mereka berdua sabar menyembunyikan perasaan itu sampai saat nya tiba, sampai saatnya ijab Kabul disahkan. Walaupun Ali sudah merasakan kekecewaan 3 kali keduluan orang lain, akhirnya kekecewaan itu terbayar juga.

Yups, sekali lagi, kata-kata ini pasti akan muncul dalam benak anda >>> “Jodoh memang tidak kemana”

Wallahu’alam Bishawab ..

mangga di share jika dirasa bermanfaat 🙂

Sumber : jamaludinsoleh.multiply.com http://kembanganggrek2.blogspot.com/

Standard
Uncategorized

Kalau Sudah Lillah, Maka Takkan Lelah

Ada yang mengeluh ingin gugur dan jatuh lalu dia berkata lelah. Ada yang lelah tubuhnya penat tapi semangatnya kuat dan dia berkata lillah – khadimulqur’an-

Istanbul_Turkey_Temples_Mosque_513489_2880x1800.jpg

kita diturunkan ke bumi ini dalam rangka beribadah kepada Allah (Q.S. 51:56) & menjadi khalifah (Q.S. 2:30). Setelah dari sana, kita akan kembali ke kampung halaman kita. Tinggal pertanyaannya, kita memilih untuk pulang kembali ke kampung halaman ini, atau malah sebaliknya ke kampung sebelah? (neraka). Dunia ini menjadi saksi biksu oleh para hamba Allah untuk menabung amal dengan sebanyak-banyaknya tetapi, ada pula hamba Allah yang menjadikan dunia ini hanyalah untuk bersenang-senang dengan segala kenikmatan yang tak ada habisnya lalu dia tidak tau akan dibawa kemana kehidupan nya setelah merasakan nikmatnya dunia padahal jauh lebih dari itu ada kehidupan yang akan kekal abadi setelah kita hidup di dunia yang fana ini yaitu alam akhirat. Mungkin ini selingan di awal sembari saya meresume paper yang diberikan oleh dosen TA saya, kalimat yang saya paparkan diatas adalah untuk menyadarkan diri saya bahwa dunia ini hanyalah sementara, apapun yang kita lakukan semata-mata hanyalah mengharap ridho darinya dan hanyalah amal yang akan dibawa pulang dan akan menemani selama kita berada dalam alam akhirat.

Daripada energi terbuang karena mengeluh, jadikanlah peluh sebagai pembuka ridha illahi robbi. 

Siang ini saya duduk di salah satu tempat yang membuat saya nyaman ketika berada di tempat ini yakni gedung perpustakaan di tempat saya berkuliah. minggu lalu dosen TA saya memberikan arahan bahwa harus meresume paper yang berkaitan dengan topik yang saya pilih, namun beberapa hari setelah diberikan saya baru mengerjakannya berhubung ada sesuatu yang harus saya tunaikan sebagai seorang mahasiswi. Di tengah saya meresume paper tersebut seketika saya merasakan sebuah kepenatan yang luar biasa. Apa ini yang dinamakan mahasiswi tingkat akhir atau kurang piknik yaaa 😀 maafkan sayaaa ya Allah. Saya merasakan bosan, jenuh, penat, lelah dengan semua hal yang sedang saya jalani tapi, saya berfikir lagi apa ini cara Allah untuk membuat diri saya semakin dekat dengannya. Alih alih dosen TA saya pernah memberikan sedikit nasihat bahwa ketika diri ini lemah, dan lelah ingatkan lagi hati untuk semakin dekat dengannya. Bu firaaaa… aku padamu wesss 😀

Saat diri ini lemah,lelah dan jauh dari-Nya tiada kata apapun yang terucap selain dengan mengucap zikir di penghujung sajadah.   

Saat kita melakukan banyak hal, mungkin tubuh kita tak selalu kuat untuk melakukannya. Kelelahan yang hadir semoga dinilai kebaikan, jika kita melakukkannya karena Allah Ta’ala. Karena selelah apapun kondisi kita dalam melakukan kebaikan, ketika lelah itu karena Lillahi Ta’ala, maka Allah lah yang akan menilai dan membalasnya dengan kebaikan. Saya jadi ingat ketika salah seorang sahabat sholehah saya memberikan sepatah dua kata ketika saya down dan hilang semangat bahkan saya pernah berfikir saya melakukan hal itu setiap hari buat apa sih ? semua yang saya kerjakan ini ada manfaat nya ga sih  ? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuat saya semakin tak ada habisnya untuk terus mengeluh, astaghfirullah 😦 lalu sahabat saya tadi pun memberikan kalimat singkat nya namun penuh makna.

kaaa kamu tahu ga, kenapa hidup itu teramat pahit? Karena surga itu teramat manis. -Adriani Rizka 2014-

trimakasih yaaa… uhhh ketika saya mendengar ucapannya hati sayapun terenyuh ternyata benar apa yang dikatakan beliau, bahwa ketika kita down dan tidak semangat dan saat kita berfikir perjuangan ini sudah segini aja, perjuangan ini sampai di titik ini saja namun ternyata tidak. Semua yang kita lakukan ini adalah bentuk perjuangan dan proses untuk menaiki anak tangga perlahan demi perlahan hingga sampai pada garis finish. Setiap perjuangan yang dilakukan terdapat lelah,letih,lemah dan penat yang dirasa. Semua itu jadikanlah bentuk rasa syukur kita kepada sang maha Pencipta bahwa kita masih diberikan nikmat umur, hidup dan nikmat lainnya yang kita rasakan pada saat ini.

buat para pembaca semua sedikit pesan dari saya. Jadikanlah setiap aktivitas yang kita lakukan adalah sebagai bentuk rasa syurkur kita terhadap Allah swt dan niatkan dalam hati bahwa apapun segala usaha yang kita upayakan tak terlepas hanya mengharap ridho-Nya. Sekian cerita dari saya, karna apapun yang ingin saya tuliskan disini adalah sedikit pengalaman dari hidup yang saya jalani. Semoga ini bisa menjadi sebuah manfaat dan ladang kebaikan bagi temen temen semua. Hatur nuhun

Hikayatul Isri, 15.05 Bandung

Perpusatakaan Telkom University

Standard
Uncategorized

Prioritas Niat

Mount-Fuji 

“Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, maka jadikanlah kelebihanmu itu sebagai ladang pahala yang bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekelilingmu -Hikayatul Isri-

Berbicara mengenai niat. Niat merupakan awal dari sebuah perbuatan yang ingin kita lakukan jika niat kita sudah benar dan yakin maka apapun pekerjaan yang kita lakukan akan terasa lebih mudah namun jika niatnya tidak disertai dengan keyakinan yang seyakin yakinnya maka semua pekerjaan akan terlihat susah. Seperti yang telah dijelaskan dalam suatu Hadist yaitu

–“Innamal a’maalu bin niyyah” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat)–

Dari hadist tersebut sudah jelas bahwa segala perbuatan harus diawali dengan niat Ketika kita ingin meraih sesuatu contohnya saja kita ingin meraih S2 keluar negeri,  ingin meraih juara 1 dalam suatu kompetisi dan ingin Hijrah di jalan Allah. Dari 3 contoh sample yang telah saya sebutkan sebelumnya awal dari semua itu haruslah disertai dengan niat dan berikhtiar dengan seyakin yakinnya kita kepada sang maha mengabulkan yaitu Allah swt.

Saya pernah mengikuti suatu event yang dimana event tersebut saya fikir sangat bermanfaat buat diri saya yaitu “UXID”. Acara tersebut diadakan tepatnya di kota Bandung dan dikemas sebagus mungkin didalamnya terdapat discuss antar kelompok dan berakhir dengan presentasi dari masing-masing kelompok dan alhamdulillah nya acara tersebut sangat berjalan dengan lancar. Suatu ketika saya berkenalan dengan salah seorang perempuan sebut saja “Dian” mba Dian ini sangat supel dan ramah kebetulan sekali kami satu kelompok untuk mengerjakan suatu project design yang telah diberikan.Kami memulai mendiskusikan design apa yang ingin dibuat. Waktu pun tiba menunjukkan pukul 15.00 Wib. Masing masing kelompok diberikan waktu istirahat dalam waktu 30 menit dan dalam waktu kosong itulah saya memulai memberanikan diri untuk mengobrol lebih dekat dengan mba Dian. Beliau merupakan alumni Mahasiswi UPI di kota Bandung jurusan Management dan beliau juga seorang guru pengajar bahasa Inggris dan subhanallah beliau ingin melanjutkan s2 nya di Jepang. “Betapa sungguh bangga nya kedua orang tua nya dengan beliau”  ‘dalam hati saya berkata demikian’  dan sampai-sampai beliau ingin mengajarkan saya bahasa jepang dengan senang hati . Subhanallah pisan 🙂 dan satu pesan mba Dian kepada saya bahwa Niat dan Usaha kita tidak boleh hanya sebatas satu tetes air hujan tapi, niat dan usaha yang kita lakukan haruslah lebih dari satu tetes air hujan. Seperti satu pribahasa mengatakan  kalau tidak dipecahkan ruyung, manakan dapat sagunya artinya Tak akan tercapai maksudnya kalau tak mahu berusaha dan bersusah payah.

Dari sepenggal kisah pengalaman yang saya dapatkan dalam acara tersebut yaitu bahwa setiap manusia memiliki suatu kelebihan dan kekurangan yang ada pada masing masing setiap individu. Kelebihan yang ada jadikanlah sebuah ladang pahala dan berikanlah sebuah kebermanfaatan bagi orang orang disekelilingmu dan kekuranganmu jadikanlah sebuah pemrosesan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Niat dan Usaha haruslah sejalan sesuai dengan sesuatu yang mana yang ingin kita prioritaskan. Saya sebagai seorang mahasiswi semester 7 yang masih duduk di bangku kuliah ini masih sering berfikir dan terus berupaya untuk membuat suatu perubahan yang besar yang nantinya bisa bermanfaat bagi orang orang yang ada disekeliling saya. Ketika mendengar dan melihat seseorang yang ingin melanjutkan pendidikannya ke Luar Negri. Saya merasa sudah sejauh mana usaha yang saya lakukan ? sudah sejauh mana doa yang saya panjatkan ke sang maha pencipta ? dan sudah sejauh mana ikhtiar serta niat yang saya ingin tujukan ? namun semua itu ada Allah swt yang akan memudahkan jalan kita menujunya. jika niat kita sudah mantap dalam hati dan disertai Ridho Allah swt Dia yang akan memudahkan jalan kita untuk terus berikhtiar semaksimal mungkin.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya :”dan tiadalah mereka (manusia) diperintah kecuali untuk beribadat menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat hanya semata-mata untuknya (Al-Baiyinah : 5).

Saat niat sudah sejalan dengan ikhtiar maka kuatkan iman untuk mendekat padaNya. Saat niat sudah sejalan dengan suatu prioritas maka kuatkan tekad bahwa semua akan ada yang memudahkan kita untuk meraihnya dan saat iman sudah mantap dalam hati kuatkan lagi untuk meraih ridho dariNya. 

Hikayatul Isri, 15 Juni 2017. 13:53 , Bandung

Standard
Uncategorized

Bidadari Dunia Bernama “WANITA”

Suasana indah itu pun kembali lagi hadir dengan sejuta kesejukan yang menyejukkan qalbu. sore hari aku berjalan di sekeliling taman kota Bandung. Ku lihat di sekeliling ku bunga bunga bermekaran sungguh indah dan menawan yg tak sembarang orang dapat menyentuhnya. Ku duduk di salah satu bangku yg ada di taman tersebut. ku ayun ayunkan kaki ku sambil ku menikmati betapa sungguh luar biasanya Allah menciptakan apa-apa yang ada di dunia yang fana ini. Sejenak aku memikirkan “Seorang Wanita”. Apa yang aku fikirkan tentang “WANITA” ? mengapa dengan “WANITA” ? makhluk sangat luar biasa yang Allah ciptakan dengan bentuk rupa-nya yg sangat menawan dan bentuk tubuhnya yg sangat elok. Aku pernah mendengar salah satu cerita yang dibawakan oleh Ustazdah ku dlu bahwa :

“Sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah dan sebaik-baik laki-laki adalah yang memuliakan wanita. Semoga kita menjadi muslim dan muslimah yang sholeh dan sholehah” 

 

birth_month_flowers-primary-1920x1280px_pixabay

Kalimat yang sangat tersentuh ketika kita mendengarnya. Wanita itu bak mutiara yang berada di dalam dasar lautan yang sangat indah namun sulit untuk mendapatkannya. Allah telah ciptakan kita dengan sebaik-baik rupa dan bentuk dan Allah telah ciptakan kita dengan sedikit perbedaan yang ada pada diri laki-laki. Hati seorang wanita diciptakan adalah untuk melindungi dengan penuh kasih dan sayang, tangan wanita diciptakan adalah untuk menjaga dan mendidik generasi nya yg cerdas dan air mata wanita diciptakan adalah sebagai kekuatannya untuk menahan segala cobaan dalam hidupnya. Begitulah “Bunga dengan Wanita” sungguh indah jika disentuh namun tidak sembarang orang yg dapat menyentuhnya.

Dalam Islam wanita dijadikan makhluk yang sangat istimewa dan diangkatkan derajatnya dari kaum laki-laki. Bahkan dalam Alquran sendiri ada surat An Nisa yang artinya wanita. Ada beberapa keistimewaan wanita dalam Islam diantaranya adalah wanita dalam islam sama dengan laki laki, Kedudukan ibu lebih tinggi dari ayah 3 derajat dan wanita yang shalehah bebas memasuki pintu syurga dari manapun yang ia inginkan, subhanallah. Sebagaimana terdapat dalam Alquran surat Al Hujarat :

“ Hai manusia, sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah maha mengetahui, maha teliti. (QS : Al Hujarat, ayat 13)

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa kedudukan wanita sama dengan laki-laki. wanita bukan dijadikan sekehendak bagi laki-laki, bukan dijadikan pesuruh bagi laki-laki namun wanita itu diciptakan adalah sebagai pasangan dari kaum adam dan juga teman sejajar layaknya teman hidup se-Syurga bagi suaminya kelak. Wanita dunia yang solehah lebih utama dari para bidadari surga. Inilah yang membuat betapa cemburunya bidadari surga terhadap wanita sholehah. Maka, yuk dimulai dari sekarang perbaiki diri kita, tingkatkan lagi kualitas ibadah kita kepada Allah dan buat para bidadari surga cemburu pada kita, insya Allah. semoga saya dan bagi para pembaca semua dapat meningkatkan ibadah kita kepada Allah swt dan menjadi muslim dan muslimah yg sholeh dan sholehah.

Hikayatul Isri, 13 Juni 2017. 13.29 : Bandung

 

 

Standard
Uncategorized

Saat Iman Ini Lemah

Hari ini tepatnya tanggal 12 Juni 2017, di kota kembang nan indah saya kembali lagi dengan tulisan sederhana saya, dengan sejuta unek unek yg ada dalam fikiran saya. Hari ini saya duduk di sudut gedung perpustakaan dengan mengenakan baju putih biru yakni seragam kuliah yg sehari hari saya pakai. Saya berfikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk jari tangan saya diatas keyboard, bahwa Bandung begitu romantis kota ini kota tempat berteduh saya selama hidup di perantauan jauh dari orang tua,adik adik, saudara dan juga teman kecil saya. Tapi saya menikmatinya dengan penuh rasa syukur dengan sang ilahi Rabbi.

“Seorang muslim itu selalu punya cara sendiri untuk menata hatinya. Saat kecewa hadir dalam perjalanan hidupnya, ia akan kuatkan imannya” -,Mba Dewi,-

 

2018-01-02 07.17.59 2.jpg

Blog yg sering saya kunjungi adalah blog salah satu wanita terhebat yg pernah saya temui di beberapa akun media sosial seperti blog,instagram dan facebook. Beberapa waktu lalu saya sering kepoin beberapa akun media sosial beliau, saya kagum dengan apa yg beliau hadirkan dalam blog nya. Begitu terkesan begitu menginspirasi. Seketika itu saya pernah membaca mengenai pejalanan hidupnya saat di London dan saya banyak belajar dari beliau tentang bagaimana menjadi seorang muslimah yg cerdas dan muslimah yg tidak gampang putus asa saat cobaan menghampiri.

Seketika saya merenung dengan sejuta makna hidup yg sebenarnya saya belum faham arti akan keimanan sesorang. Saat iman ini lemah, adakah obat yang paling mujarab selain dengan mengingatNya ? adakah obat yg paling ampuh selain dengan menyebut kalamNya ? saat iman ini lemah tiada yg mampu untuk mengobati dan membantu selain dengan besujud dihadapanNya menyembah dengan isak tangis selalu mengiringi diatas sajadah. Jika iman itu artinya percaya, lalu pertanyaannya, sudah sejauh mana kita percaya akan ketetapanNya ? Sedangkan maut, rezeki, jodoh sudah Allah tetapkan jauh sebelum kita lahir ke duania Maka apa yg kita terima tak akan berkurang ataupun bertambah karena manusia. Besaran yg didapat tentulah sesuai dengan takarannya.

Saya pernah kecewa bahkan kecewa yg sangat mengenyuh dalam dada saat tangis selalu menghampiri dalam sujud sepertiga malam saya tapi saya selalu pecaya dan bertawakkal hanya padaNya. Saya yakin dan percaya bahwa ada yg menyembuhkan segala sesuatunya dengan sebaik baik rencanaNya. Kecewa yg saya alami demikian merupakan kecewa yg amat sangat mengenyuh dada dan hati saya dan isak tangis pun selalu menetes bahwa dengan bertawakkal dan berikhtiar semua akan Allah mudahkan selagi kita terus berikhtiar dengan sebaik baik pengikhtiaran kita sebagai hamba yg dhoif ini.

Bukankah Allah telah berjanji bahwa dia yg maha pemberi masalah atas permasalahan yg ada dan dia juga yg maha pemberi solusi dari segala permasalahan yg terjadi demikian. Lantas, kita sebagai manusia jangan hanya lemah saat iman kita diuji, jangan hanya pasrah saat iman kita goyah tetaplah selalu berdoa bahwa Allah selalu mengabulkan doa dengan melalui 3 tahap yakni diberikan dengan segera, ia tunda atau ia ganti dengan yang jauh lebih baik, tapi pada intinya tetaplah bertawakkal dan berikhtiar dengan sebaik baik pengikhtiaran kita padaNya.

                                                  اَللَّهُمَّ  ياَمُصَرِّفَالْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبُنَا عَلَى طَاعَتِكَ

        Artinya: “Ya allah, Dzat yang mencondongkan hati, condongkanlah hati-hati kami untuk taat kepada-Mu.” [HR. Muslim, no. 2654]

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk reminder dalam diri saya bahwa masih banyak yang harus saya benahi dalam diri ini. Bahwa diri ini masih penuh dengan dosa. Semoga Allah jadikan kita seorang hamba yang mampu selalu mengingatNya dan Allah jadikan kita semua hamba yang selalu dekat padaNya dan selalu bersyukur atas segala nikmat baik nikmat iman, nikmat kesehatan dan nikmat hidup. Sekian dari saya mahasiswi semester 7 yg sedang dalam keriwehan menghadapi Tugas Akhir. Semoga tulisan ini bisa menjadi kebermanfaatan bagi pembaca semua.

 

Hikayatul Isri, 12 Juni 2017 , 11.54 : Bandung

Standard